Animo masyarakat untuk menunaikan umroh kini begitu luar biasa. Selain akibat antrian untuk menunaikan haji yang semakin lama juga dengan semakin meningkatnya taraf ekonomi masyarakat. Namun ada hal di luar itu yang patut dicermati, yaitu hakikat ditunaikannya sebuah perjalanan umroh. Ibadah seharusnya akan membuat pelakunya menjadi semakin bertakwa, bukan sebaliknya atau tidak ada perubahan sama sekali.

Banyak yang berangkat umroh di kehidupan sehari-harinya tidak menutup auratnya dengan baik, alias tidak berjilbab. Dan ketika pulang berumroh tak jarang dijumpai mereka  kembali melepas kerudung dan jilbabnya. Sebagian orang justru menganggap umroh hanyalah sebagai pelepas bosan, bagaikan sebuah perjalanan wisata semata. Sungguh sesuatu yang sangat menyedihkan.

Negeri Haram adalah negeri yang tandus, umumnya gunung bebatuan menyelimuti jazirahnya. Bila niat hanya semata wisata betapa negeri kita justru kaya kan tempat-tempat yang indah dan luar biasa. Sesungguhnya memang umroh bukan perjalanan wisata. Dibutuhkan hati yang suci ketika menghadap Baitullah. Niat yang hanya berisikan ibadah kepada Allah semata.

Maka tak jarang bila ketika dikarenakan sesuatu hal, karena adanya kendala yang tidak bisa dihindari, mereka lebih banyak komplain dan marah atas pelayanan yang dianggap tidak memuaskan. melupakan prinsip bahwa datang di Tanah Haram adalah niat suci hanya beribadah kepada-Nya semata.

Sabda Rasulullah SAW :

Satu kali sholat di masjidku (masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu kali sholat di masjid-masjid lain, kecuali di Masjidil Haram, satu kali sholat di Masjidil haram lebih utama daripada seratus ribu kali sholat di masjid yang ┬álain ” (HR. Muslim dan Ibnu Majah).

Untuk itu wahai saudaraku, bersihkan hati dan niat kita saat akan menunaikan umroh. Agar ridha Allah selalu menyertaimu. Salam dari kami, MOZAIK Sahabat Umrah dan Travel.